Ni salah satu cerpen gue, kata-katanya mungkin masih ngalor, ngidul, ngetan balik ngulon, hehehee... Cerpen ini asli buatan gue, kalau mirip dengan punya yang lain harap makhlum, soalnya gue juga nggak terlalu banyak baca cerpen orang. Bisa aja yang sini dengan yang sana idenya sama hehehe...
*Dengarlah Kata Hatiku*
Naila tampak
senang memainkan boneka Beruangnya. Ia memakaikan baju ballet ke beruangnya
itu. Tiba-tiba, kakaknya, Sekar muncul dan langsung merebut boneka itu dari
tangan Naila.
“Boneka Beruang
ini punyaku!,” kata Sekar membentak.
“Punyaku! Bunda
yang memberikannya padaku!,” kata Naila memelas.
“Aku tidak
percaya! Pokoknya boneka ini punyaku!,”
Naila dan Sekar
bertengkar, secara tidak sengaja, Naila memukul pipi Sekar. Sekar langsung mengadukan
hal ini kepada ayahnya.
“Ayah, pipiku
dipukul Naila!,”
“Apa? Dimana Naila?,”
“Di halaman
belakang, yah!,”
Naila memandangi
boneka Beruangnya itu, baju ballet yang melekat robek karena pertengkaran tadi.
Tanpa disadari Naila, ayahnya langsung memukul pipi Naila dengan keras.
“Naila, kenapa
kamu memukul Sekar?,” kata ayah dengan marah.
“Kakak yang
memukulku duluan, yah!,” kata Naila menahan sakit.
“Tidak usah
banyak alasan! Sekarang minta maaf kepada kakakmu!,”
Sebenarnya Naila
tidak ingin meminta maaf kepada kakanya, tapi karena takut ayahnya akan
menghukumnya, terpaksa Naila meminta maaf kepada kakanya.
“Kak Sekar,
maafkan aku…”
Sekar tersenyum
mengejek, ia dan ayahnya pergi meninggalkan Naila. Dari kejauhan, Bik Jum
memandang Naila dengan penuh rasa kasihan. Sudah berkali-kali Naila
diperlakukan ayahnya seperti itu. Meskipun Sekar yang salah, Naila-lah yang
dihukum. Apalagi ibundanya telah meninggal dunia, tak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan
Naila.
Naila melangkah
perlahan keluar rumah. Itu sudah menjadi kebiasaannya setelah dimarahi. Di
jalanan, Naila melihat teman-temannya bahagia bermain bersama ayah mereka. Naila
merasa iri dengan mereka, ia tak mengerti kenapa ia bisa berbeda dari yang
lainnya. Naila berjalan tanpa arah, ia tak tahu akan kemana. Ia berpapasan
dengan seorang wanita muda.
“Adik kecil,
kenapa adik sendirian? Tidak ada yang mengajak bermain ya? Kalau begitu, yuk
kita main bersama-sama,”
Mata Naila
langsung berbinar, seumur-umur baru sekali ia diajak bermain orang dewasa. Tapi
kemudian Naila merasa takut, ia takut wanita itu akan menyakitinya seperti
nenek sihir di film-film. Rasa takut itu hilang seketika entah kemana. Naila
asyik bermain petak umpet dengan wanita itu. Karena sudah sore, permainan pun
berakhir.
“Adik pengen
pulang?,”
Naila
menggelengkan kepalanya
“Lho, kenapa?,”
Air mata Naila
menetes deras.
“Aku nggak mau
pulang habis ayah jahat sih! Ayah suka memukulku padahal yang salah bukan aku!
Ayah hanya sayang kakakku! Aku dibenci ayah! Aku juga benci ayah! Aku nggak
pengen pulang, huhuhu…” Naila menangis
Wanita itu
kasihan kepada Naila, ia mengelus-elus rambut Naila.
“Adik yang tegar
ya, tante juga pernah ngalamin hal ini. Yang sabar ya, suatu saat nanti kamu
pasti akan bahagia, sekarang adik pulang ya…”
Naila
mengangguk, ia berlari meninggalkan wanita itu. Meskipun wanita itu menyuruhnya
pulang, ia tetap tidak ingin pulang. Naila duduk di kursi, perasaan sedih,
kesal bercampur menjadi satu. Tiba-tiba hujan turun, Naila bersikeras tidak
ingin pulang. Kepala Naila terasa pusing, pandangannya kabur, Naila pingsan
seketika.
Ketika Naila
membuka matanya, ia berada di kamarnya. Naila tak percaya ketika melihat
ayahnya duduk menungguinya.
“Naila sayang,
kenapa Naila tidak langsung pulang? Apa ayah sudah jahat padamu? Ayah sangat
mencemaskanmu, maaf kalau ayah memukulmu,”
Kata-kata
ayahnya membuat Naila semakin tak percaya. Air mata mulai membasahi pipi Naila,
ia memegang tangan ayahnya seerat-eratnya. Ternyata ayahnya sangat
menyayanginya, malam ini, Naila tertidur pulas.
Terik matahari
menyinari sudut-sudut kamar Naila. Naila segera bangun dan berlari keluar
kamar. Ia ingin ayahnya bersikap seperti tadi malam. Ketika melihat ayahnya, Naila
langsung memanggilnya.
“Ayaaahhhh‼!,”
teriak Naila sambil tersenyum.
Tapi, ayahnya
sama sekali tak mempedulikannya. Naila terkejut melihat sikap ayahnya, ia sadar
bahwa kejadian tadi malam hanyalah mimpi. Naila menangis sejadi-jadinya, kenapa
ia begitu percaya pada mimpi?
Hari berganti
hari, tahun berganti tahun, waktu terus berlari. Kini Naila sudah kelas 2 SMP.
Ia sedang membaca buku sambil menunggu temannya, Nora. Setelah agak lama,
tampak Nora berlari-lari kecil kearah Naila.
“Naila, maaf ya
aku menunggu lama!,”
“Ya, kenapa lama
banget sih?,”
“Hehehe… biasa
lah, Mr. Christ…”
“Ohh, kalau Mr.
Christ udah ceramah, kutinggal tiduran...”
“Ternyata anak
pintar sama saja ya, hmm… nanti kerumahku ya?,”
“Mau ngerjakan
PR bareng ya?,”
“Eh, iya,
hehehe… PR kali ini sulit banget!,”
“Ah biasa
saja!,”
“Yang bener?,”
“Ya, soalnya
sekali diterangkan aku langsung mengerti,”
“Hih! Kamu
pinter banget dech! Aku jadi gemes sama kamu!,”
“Biasa aja,
ah!,”
Mereka berdua
berjalan, dari kejauhan tampak gadis yang berdiri sendirian. Nora langsung
menepuk bahu Naila.
“Kamu lihat
perempuan itu?,”
“Ya, kenapa?,”
“Dia kakak kelas
kita, namanya Vania! Dia pernah tertangkap polisi karena menggunakan obat
terlarang. Dia juga pernah kepergok sedang mesum dengan pria tak dikenal.
Katanya sih dia akan dikeluarkan oleh pihak sekolah,”
“Dia nakal ya,
aku saja tidak berani melakukan hal seperti itu!,”
“Aku juga, dia
jadi seperti itu karena ayahnya mewariskan perusahaan kepada adik perempuannya
yang suka foya-foya!,”
Naila langsung
menoleh kearah Vania, didalam hati Naila berkata seharusnya dia tidak melakukan
tindakan bodoh seperti itu. Sepulang dari sekolah, Naila menunggu ayahnya di
ruang makan, ia ingin mengajak ayahnya makan bersama. Ia merasakan bagaimana
rasanya makan bersama seperti yang dilakukan keluarga teman-temannya. Sesaat
kemudian, ayahnya pulang, ia berlari keruang tamu.
“Ayah, yuk makan
siang bersama!,”
“Maaf Naila,
ayah banyak urusan!,”
Sekar pulang
kerumah, ia memanggil ayahnya.
“Yah, yuk makan
siang diluar, aku menemukan restorant yang bagus!,”
“Baiklah Sekar,
tunggu ayah dulu ya…”
Naila merunduk,
ia merasa kesal sekali. Ia berteriak sekuat-kuatnya.
“Ayah Jahaaatt‼ Naila
benci ayaahhh‼,”
Naila berlari
kearah kamar, ia kesal diperlakukan ayahnya seperti itu. Naila mengerjakan
soal-soal Matematika, ia bisa melupakan kekesalannya dengan mengerjakan semua
soal. Naila teringat janjinya kepada Nora, ia berganti pakaian dan pergi
kerumah Nora.
Sampai disana,
Naila disambut baik oleh orangtua Nora. Ternyata keluarga itu sedang
mendiskusikan tempat untuk wisata besok Minggu. Suasana diskusi makin seru, tiba-tiba
perasaan Naila menjadi sakit dan sedih. Ia tak pernah merasakan serunya
berdiskusi bersama ayah dan kak Sekar.
“Nora, aku
pulang dulu ya…”
“Tapi PR-nya
belum!,”
“Lain kali saja,
Nora! Aku masih ada kerjaan lain!,”
“Apa kamu merasa
tersinggung dengan kami?,”
“Tidak, Nora.
Kalaupun kujelaskan, kau tak akan mengerti!,”
Naila langsung
berlari meninggalkan Nora, perasaaannya campur aduk. Air matanya kembali
menetes, ia harus tegar. Saat Naila berjalan, tiba-tiba ada yang menyekapnya
dari belakang. Seketika Naila langsung pingsan, ia tidak tahu apa yang akan
terjadi. Naila membuka matanya, ia berada di tempat yang sempit dan gelap.
Ia melihat dua
pria dan satu wanita berdiri didepannya.
“Hai anak manis,
sekarang telepon orangtuamu! Katakan seperti yang tertulis dikertas ini! Kalau
tidak, kamu akan mati!,” kata wanita itu dengan kasar.
Naila langsung
menelan air liurnya, ia diculik! Naila tidak yakin ayahnya akan
menyelamatkannya.
“Bolehkah aku
mengatakan kata-kata terakhir jika orangtuaku tak mengirim uang tebusan?,”
tanya Naila.
“Boleh,
silahkan! Kalau orangtuamu tidak menyelamatkanmu, kau akan kami jual!,” jawab
wanita tersenyum sadis.
Mereka langsung
menelpon ayah Naila dengan handphone Naila. Sudah tiga kali ditelpon, tapi
selalu ditolak. Para penculik itu merasa kesal, mereka menelpon lagi dan kali
ini diangkat.
“Ayah! Tolong,
yah! Tolongin Naila! Kalau tidak segera ditolong, Naila akan dijual!,” kata
Naila sambil membaca tulisan dikertas itu.
“Hahahaha…
sekarang putri anda ada ditangan kami! Jika anda tidak mengirim uang 10 juta,
saya akan menjual putri anda! Jika anda tidak ingin, dengarkan kata terakhir
putri anda! Ingat jangan lapor polisi, kalau anda melaporkan ini kepolisi,
putri anda akan kami bunuh!,”
“Ayah, kalau
ayah tidak ingin menyelamatkan Naila, Naila tidak akan apa-apa. Naila akan
tegar, ayah, Naila sayang ayah…”
Setelah
mendengar kata-kata Naila, ayah Naila hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian
telepon ditutup. Naila tidak yakin ayahnya akan menolong, ia pasrah pada
takdir. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar dan pintu pun terbuka.
Ternyata ayah
Naila yang membuka pintu ruangan ini. Ayah Naila langsung melepas tali yang
mengikat Naila. Naila memeluk ayahnya, ia berharap ini bukanlah mimpi, ia
berharap ayahnya benar-benar menyayanginya.
Sesaat kemudian,
terdengar suara sirine polisin, para penculik pun ditangkap. Saat keluar dari
ruangan ini, aku melihat kak Sekar. Ia memandangku dengan mata berkaca-kaca,
kemudian ia berlari kearahku dan memelukku. Mulai saat ini kami akan memulai
kehidupan seperti keluarga yang lainnya. Betapa senangnya hati Naila,
seandainya kejadian ini tak terjadi, mungkin tak akan seperti ini.
*TAMAT*
Kalau pengen koment silahkan! Tapi harus punya akun Google dulu, hehehe... salam buat semuanya!!!
